Menenggang Empati, Berkunjung Ke Museum Nasional

Kompas.com - 31/03/2019, 21:53 WIB
Kain Tenun Tampan, Lampung, Katun, Abad 19, 53x53cm.
Foto Arsip Museum Nasional dan Buku Archipel. Arsip Museum Nasional dan Buku ArchipelKain Tenun Tampan, Lampung, Katun, Abad 19, 53x53cm. Foto Arsip Museum Nasional dan Buku Archipel.

PERISTIWA pembunuhan pada orang-orang yang sedang beribadah di Masjid pada 15 Maret 2019 di sebuah kota kecil, Christchurch, di New Zealand menghentak dunia.

Simpati dan empati terhadap komunitas Muslim berdatangan baik dari pimpinan politik tertinggi dunia sampai masyarakat biasa.

Mereka secara global berduka, sejalan dengan itu menguatkan masyarakat Muslim, bahwa Islam sebagai religi dan pembawah risalah kedamaian – seperti memaafkan peristiwa pembunuhan tersebut dari keluarga korban, telah dibincangkan kembali parasnya.

Dengan segera jejak-jejak Islam selama ratusan tahun pada masa lalu kembali terngiang-giang di benak pada bulan-bulan ini.

Baca juga: Mengapa Harus Mengisi Liburan ke Museum Nasional?

Sementara di Tanah air, keprihatinan kembali hadir tatkala yang muncul dari hari ke hari di masyarakat meruyaknya fenomena pengentalan identitas. Utamanya musim kampanye Pilpres (Pilihan Presiden) yang memancing kerawanan konflik berlatar identitas keyakinan.

Media sosial dipenuhi isu-isu mengenai religi, yang cenderung dipelintir menjadi fitnah atau hoaks, membuat kita tercenung dan gamang.

Tak ada jalan lain, kita bersama sejenak menoleh pada jejak-jejak budaya Islam yang dianggap memberi bukti “toleransi dengan pemeluk religi lainnya”.

Bisa jadi artefak patung, elemen arsitektur, lontar, kaligrafi, perhiasan, mahkota atau baju pun “jimat” yang bisa mengungkap makna: Islam yang teduh, Islam yang toleran, Islam yang utuh.

Hanya kembali kepada ke sejarah, tempat di mana kita semua berefleksi, yakni museum akan membawa pelajaran berharga dari masa lalu ke masa kini.

Penulis kembali menyusuri artefak demi artefak, membuka narasi-narasi yang dapat dipertanggung-jawabkan, dengan catatan-catatan para ahli (baik sejarawan, arkeolog maupun kurator museum) dan bertandang langsung ke Museum Nasional.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X