Menenggang Empati, Berkunjung Ke Museum Nasional

Kompas.com - 31/03/2019, 21:53 WIB

Uka bahkan menelisik, bahwa Islam datang pada abad ke-7, dengan eksistensi kerajaan besar Malaka dan hubungannya dengan Pulau Sumatera dan tentu saja, daerah Palembang (Sriwijaya) serta pengaruh-pengarunh dinasti-dinasti di China yang dapat dideteksi di sana.

Uka mengombinasikan ilmu arkeologi dan sekaligus etnologi dengan sejarah dan berbagai disiplin keilmuan seperti antropologi, seni, sastra seperti: hikayat, tamboo, narasi babad lokal sampai catatan-catatan peziarah asing layaknya I-Tsing, Marcopolo atau Rabindranath Tagore, zaman kolonialisme Belanda dan lain-lain.

Salah satu yang menarik dari tulisan Uka, yang bisa ditemui artefaknya di Museum Nasional adalah seni bangun atau arsitektural Islam yang begitu jamak bentuknya, dengan membebaskan ekspresi dengan mengambil elemen-elemen Hindu-Budha.

Replika Masjid, Abad 18, Jawa Timur, Kayu dan Bambu, 145x82x122cm.
Foto Arsip Museum Nasional dan Buku Archipel.Arsip Museum Nasional dan Buku Archipel Replika Masjid, Abad 18, Jawa Timur, Kayu dan Bambu, 145x82x122cm. Foto Arsip Museum Nasional dan Buku Archipel.
Replika masjid abad ke-18/19 bisa ditemui di sana. Jika dilihat jejaknya, ada akulturasi dengan kekhasan masjid-masjid kuno beratap tumpang/berundak-undak, yang berasal dari abad ke-14, yang mengambil bentuk bangunan masa pra-Islam yang disebut Meru.

Kita bisa kenali jika dikaitkan dengan relief candi-candi di Jawa Timur, seperti Candi Surawana, Penataran atau Kedaton, dan Jago yang bahkan bangunan-bangunan semi-modern yang bisa kita temui di bangunan-bangunan Pura di Bali sampai sekarang.

Pada beberapa replika masjid kuno, pintu-pintu atau akses masuk ruangan utama Masjid banyak yang dibuat rendah, yang berguna memaksa orang harus hati-hati agar tidak terantuk kepalanya jika memasuki pintu utama.

Konstruksi tersebut, sangat mungkin adalah upaya penghormatan terhadap masjid, seperti yang termaktub pada Al-Quran (Surat At Taubah 17-18). Masjid-masjid ini tetap berfungsi untuk beribadah, dengan menimbang bukan bentuknya namun fungsinya, yang mengagungkan asma Tuhan dalam Islam.

Selain itu, dalam ilmu morfologi, yang diadaptasi dalam seni bangunan, ada proses transformasi bentuk-bentuk khusus, terutama atap yang bertingkat-tingkat pada masjid adalah penyesuaian lokalitas lklim tropis. 

DI iklim tropis, acapkali hujan dan udara dingin (sebagai sirkuit ventilasi), yang membedakan iklim sahara yang teramat kering di Timur Tengah dan negeri-negeri Islam lainnya.

Artefak lainnya, adalah mahkota atau Regalia, yang dalam bahasa Kalimantan Timur adalah Ketopong. Seperti dalam ilustrasi di artikel ini, kita bisa melihat komposisi mahkotanya sangat terpengaruh oleh bentuk-bentuk mahkota Kerajaan Hindu pada masa Kutai kuno (Kutai Martadipura di Muara Kaman).

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Seleb
Profil Lee Sung Kyung, Pemeran Cha Eun Jae di Drama Dr Romantic 2

Profil Lee Sung Kyung, Pemeran Cha Eun Jae di Drama Dr Romantic 2

Seleb
komentar di artikel lainnya
Close Ads X