Prita Laura, dari Penyuka Diving ke Pandu Laut

Kompas.com - 15/05/2019, 16:59 WIB
Prita Laura hadir dalam kegiatan pemutaran film dokumenter dan diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (14/5/2019), mengenai kepedulian terhadap laut di Indonesia.KOMPAS.com/ATI KAMIL Prita Laura hadir dalam kegiatan pemutaran film dokumenter dan diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (14/5/2019), mengenai kepedulian terhadap laut di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sudah 15 tahun, pembawa acara televisi Prita Laura (40) menjalani hobi diving (menyelam).

Kecintaannya akan laut menumbuhkan kesadarannya bahwa laut sangat penting bagi kehidupan manusia di Indonesia, yang 79 persen wilayahnya merupakan laut.

Apalagi, dalam pengalamannya menyelam, tak jarang ia mendapati kondisi laut yang buruk di Indonesia.

Baca juga: Film Dokumenter Diputar di BBJ, Susi Pudjiastuti Dijadwalkan Hadir

Prita Laura kemudian mewujudkan kesadarannya itu menjadi kegiatan menjaga dan merawat laut di Indonesia. Ia bergabung dengan Pandu Laut Nusantara, sejak gerakan peduli laut di Indonesia tersebut diresmikan pada 15 Juli 2018.  

Sehabis menjadi moderator diskusi Kawasan Konservasi Laut, Perikanan, dan Ekowisata: Kesepakatan Baru untuk Alam dan Manusia di Indonesia pada Selasa (14/5/2019) sore di Bentara Budaya Jakarta, Prita Laura bercerita tentang kegiatan menjaga dan merawat laut bersama teman-temannya.

"Saya pernah menyelam di laut Kepualuan Seribu. Kedalamannya 10 meter lebih lah. Bayangin, jarak pandang cuma sampai sejengkal ke depan dari muka saya. Airnya kotor, hitam. Pakai lampu juga enggak tembus," tutur Ketua Harian Pandu Laut Nusantara ini kepada Kompas.com.

"Sebut deh sampah apa, semua ada di laut Kepulauan Seribu. Sandal, kemasan plastik, bahkan kasur dan minyak, semua ada," sambung mantan penyiar di salah satu stasiun televisi berita ini.

Baca juga: Nadine Chandrawinata Akan Bawa Obor Asian Games 2018 Sambil Menyelam

Untuk memerbaiki kondisi laut di Indonesia, pada 19 Agustus 2018 Pandu Laut Nusantara membuat kegiatan membersihkan laut dari sampah, secara serempak di 73 tempat di Indonesia.

"Dalam rangka 17 Agustus tahun lalu (Hari Kemerdekaan ke-73 RI), kami bersih-bersih secara serempak di 73 titik di Indonesia," ceritanya pula.

"Tahun ini kami akan bikin lagi bersih-bersih, dalam rangka 17-an juga," ujarnya.

Baca juga: Kaka Slank Bawa Pesan dari Laut untuk Presiden dan Wakil Presiden Terpilih

Pandu Laut Nusantara, sambung Prita Laura, juga menggandeng figur-figur publik dalam berkegiatan. Band Slank, contohnya.

"Slank itu serius, peduli. Mereka hampir selalu terlibat. Mereka aktif. Pernah saya lagi istirahat di pantai, habis diving, eh Kaka (vokalis) dan Ridho (gitaris) enggak kelihatan. Ternyata, mereka lagi bersih-bersih pantai, mungutin sampah," kenang Prita, yang sedang mengambil Program Studi S2 Komunikasi di Universitas Indonesia.

Tahun ini, lanjut Prita, Slank dijadwalkan akan tampil bermusik di Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, untuk menyampaikan pesan peduli laut.

"Konsernya Oktober, dalam rangka Hari Sumpah Pemuda," ujarnya.

Baca juga: Tanta Ginting: Raja Ampat Itu Kayak Lamborghini

Raja Ampat merupakan Marine Protected Area atau Kawasan Konservasi Laut.

Hal itu dipaparkan juga dalam film dokumenter Our Planet: How to Save Our Coastal Seas, yang diproduksi dan ditayangkan atas kerja sama World Wide Fund for Nature (WWF), Netflix, dan Silverback Films.

Film tersebut diputar di Bentara Budaya Jakarta sebelum diskusi Kawasan Konservasi Laut, Perikanan, dan Ekowisata: Kesepakatan Baru untuk Alam dan Manusia di Indonesia.

Diskusi tersebut menghadirkan pembicara-pembicara Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti; CEO WWF-Indonesia, Rizal Malik; dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Kompas, Ninuk Mardiana Pambudy.



PenulisAti Kamil
EditorAti Kamil
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X