Martin Pratiwi Ungkap Alasan Baru Gugat Ashanty Rp 9,4 Miliar

Kompas.com - 05/07/2019, 20:57 WIB
(Dari kiri) Martin Pratiwi dan kuasa hukumnya, Teddy Hartanto (tengah) menggelar jumpa pers di OneTouch Slimming, Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018). Pratiwi memberikan keterangan terkait diduga Jessica Iskandar dan kakaknya, Erick Iskandar, melakukan pelanggaran kontrak kerja. Kompas.com/Tri Susanto Setiawan(Dari kiri) Martin Pratiwi dan kuasa hukumnya, Teddy Hartanto (tengah) menggelar jumpa pers di OneTouch Slimming, Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018). Pratiwi memberikan keterangan terkait diduga Jessica Iskandar dan kakaknya, Erick Iskandar, melakukan pelanggaran kontrak kerja.

JAKARTA, KOMPAS.com - Martin Pratiwi mengungkap alasannya baru menggugat penyanyi Ashanty secara perdata tahun ini di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

"Karena saya enggak ingin sampai ke pengadilan. Saya ingin secara kekeluargaan," kata Pratiwi saat jumpa pers di kawasan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Jumat (5/7/2019).

Ada pun, perjanjian kerja sama di bidang kosmetik antara Pratiwi dengan Ashanty dimulai pada 2016 selama satu tahun.

Pratiwi menyebut Ashanty mengingkari kontrak perjanjian karena membatalkan kerja sama 1 bulan sebelum perjanjian berakhir.

Sebaliknya, Ashanty mengklaim bahwa perjanjian telah berakhir dan ia tidak mau melanjutkan kerja sama.

Pratiwi menambahkan, sebelum akhirnya mengajukan gugatan ke pengadilan, ia sudah mengirimkan surat somasi kepada Ashanty pada Mei 2017 dan September 2018. Namun ia tidak mendapat respons.

Pratiwi hanya ingin menuntut hak atas keuntungan dan kerugian yang dideritanya.

"Karena ada keuntungan kami berdua yang belum dibagi dan ada pelanggaran yang dilakukan (Ashanty)," kata Pratiwi.

Baca juga: Ashanty Melawan Gugatan Rp 9,4 Miliar

"Kami ke pengadilan itu juga penginnya intern, cuma saya dan Mba Ashanty. Eh, ternyata ini bisa diakses semua orang di website pengadilan," sambungnya.

Pratiwi kemudian melayangkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada 26 Juni 2019 dengan total nilai tuntutan Rp 9,4 miliar yang mencakup kerugian materil dan immateril.

Baca juga: Penggugat Rp 9,4 Miliar: Ashanty yang Putuskan Perjanjian Kerja Sama

Perkara wanprestasi tersebut terdaftar di PN Tangerang dengan nomor 553/Pdt.G/2019/PN.Tng.

Dalam konferensi pers pada Rabu (3/7/2019), Ashanty mempertanyakan tindakan Pratiwi membawa kasus itu ke pengadilan saat ini.

"Sebenernya aku tidak mau berprasangka buruk. Cuma ini, kan, kejadian tiga tahun lalu, terus kenapa dibahas sekarang? Terus WA aku masih ada (menghubungi secara kekeluargaan)," kata Ashanty di kediamannya di Villa Cinere Mas, Tangerang Selatan.

Baca juga: Sebelum Gugat Rp 9,4 M, Martin Pratiwi Layangkan Somasi ke Ashanty



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X