Review: Bumi Manusia, Pembuktian Iqbaal Ramadhan dan Hanung Bramantyo

Kompas.com - 15/08/2019, 13:56 WIB
Adegan Anelis (Mawar de Jongh) dan Minke (Iqbaal Ramadhan) dalam film Bumi Manusia. DOK. FALCON PICTURESAdegan Anelis (Mawar de Jongh) dan Minke (Iqbaal Ramadhan) dalam film Bumi Manusia.

KOMPAS.com - "Saya hanya ingin jadi manusia bebas, Bu. Tidak diperintah dan juga tidak memerintah, Bu," demikian ucapan Minke kepada ibunya.

Dialog tersebut merupakan salah satu adegan dalam film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Pramoedya Ananta Toer.

Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) adalah anak pribumi yang diperbolehkan bersekolah di HBS. HBS merupakan sekolah khusus untuk orang-orang Eropa, khususnya Hindia Belanda.

Sementara itu, orang-orang Indonesia yang boleh bersekolah di HBS hanyalah mereka yang berasal dari kalangan ningrat atau pejabat.

Minke memiliki pemikiran yang progresif. Namun, hal itu membuatnya tidak disukai oleh teman-teman Hindia Belanda-nya.

Pada suatu hari, Minke jatuh hati kepada Annelies (Mawar Eva de Jongh), putri Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Nyai Ontosoroh merupakan istri simpanan seorang Belanda bernama Herman Mellema (Peter Sterk).

Statusnya sebagai istri simpanan membuat Nyai Ontosoroh dikucilkan dan dianggap perempuan tidak terhormat oleh masyarakat.

Namun, hal itu tidak membuat Nyai Ontosoroh bungkam. Ia terus melawan cemoohan dan pandangan buruk dari masyarakat.

Konflik kuat muncul saat Herman Mellama meninggal secara misterius. Minke pun menjadi tertuduh atas kematian Herman Mellama.

Didampingi Nyai Ontosoroh dan Annelies, Minke menghadapi pengadilan orang-orang kulit putih.

"Kita akan menjadi pribumi pertama yang akan melawan pengadilan kulit putih," kata Nyai Ontosoroh dalam adegannya.

Bukti Iqbaal Ramadhan

Iqbaal Ramadhan menunjukkan akting apik. Ia menepis keraguan penggemar novel Bumi Manusia dengan akting memuaskan.

Lewat Bumi Manusia, Iqbaal menunjukkan kelasnya sebagai aktor muda berbakat dan serba bisa.

Lepas dari bayang-bayang Dilan yang penggombal, Iqbaal sebagai Minke berubah menjadi sosok yang cerdas, tegar, dan berwibawa.

Iqbaal mampu memainkan jiwa emosional Minke dengan sangat baik. Kefasihan Iqbaal berbahasa Belanda juga patut diacungi jempol.

Belum lagi penampilan luar biasa Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh.

Sutradara Hanung Bramantyo mengambil keputusan tepat memberikan karakter tersebut kepada Ine Febriyanti yang dikenal dengan kecakapan berakting.

Pembawaan Nyai Ontosoroh yang terpelajar, paham tata krama, mengerti berbagai bahasa, dan cakap dalam segala hal sekaligus berbeda dari kebanyakan nyai-nyai lainnya dilumat sempurna oleh Ine Febriyanti.

Sifat tegas dan pengasih Nyai Ontosoroh begitu kentara saat ada polemik di keluarga Herman Mellama. Apalagi ketika hadirnya Minke di keluarga mereka.

Mawar Eva de Jong sebagai Annelies adalah jagonya saat menunjukkan ekspresi. Bagaimana ekspresi Annelies saat kali pertama menyukai lelaki, jerit tangis melihat ayahnya mati, hingga dilukai harga dirinya oleh sang kakak.

Wajah polos Mawar sebagai Annelies pun mampu membuat penonton tersenyum sekaligus terenyuh dengan fakta kehidupannya.

Meski durasi film begitu panjang, yakni selama tiga jam atau tepatnya 181 menit, penonton pastinya tidak akan merasa bosan dan kecewa.

Sebagai sutradara, Hanung berhasil membawa penonton agar berpikir 'Gua enggak mau melewatkan adegan demi adegan'.

Kolaborasi Hanung bersama Salman Aristo sebagai penulis skenario begitu cermat menghadirkan konflik yang sangat kompleks.

Meski film itu merupakan adaptasi sebuah novel sastra, Salman tidak plek-plek menginterpretasikan sastra sebagai dialog.

Hasilnya? Dialog-dialognya tidak kaku dan begitu natural.

Penonton awam pun begitu mudah mencerna ceritanya meski menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Jawa, dan Belanda.

Untuk urusan sinematografi, kepiawaian Hanung sudah tidak diragukan lagi dalam menggarap filmnya bernuansa kolosal.

Baca juga: Bumi Manusia Dapat Klasifikasi 17 Tahun ke Atas, Ini Komentar Produser

Latar kehidupan orang Jawa di zaman kolonial antara lain, rumah, transportasi, budaya, nama lokasi, hingga diksi, sangat diperhatikan oleh Hanung.

Tak seluruhnya dengan properti sungguhan. Misalnya, gambaran kawasan Wonokromo, Surabaya, pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Hanung membangun kawasan legendaris itu menggunakan teknologi CGI (Computer-Generated Imagery). Hasilnya pun tergolong rapi.

Lewat Bumi Manusia, Hanung seolah-olah menyeret penonton untuk masuk ke lorong waktu di zaman kolonial Hindia Belanda.

Baca juga: Jalan Panjang Film Bumi Manusia, 20 Tahun Lalu Pramoedya Ananta Toer Tolak Hanung Bramantyo

Kesempurnaan cerita, karakter, dan sinematografi semakin ciamik dengan scoring musik yang tepat dalam beberapa adegan. Misalnya seperti rasa haru, sedih, kesal, dan marah yang ditata sedemikian sempurna.

Singkatnya, Bumi Manusia adalah film yang mesti ditonton dan patut dirayakan oleh para pencinta novel Bumi Manusia dan penikmat film.

Film keluaran rumah produksi Falcon Pictures tersebut tayang di bioskop Tanah Air pada 15 Agustus 2019.

Baca juga: Hanung Bramantyo: Bumi Manusia adalah Puncak Karier Saya

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X