Belajar Kehidupan dari Lagu-lagu Ebiet G Ade

Kompas.com - 18/09/2019, 21:14 WIB
Penyanyi balada Ebiet G Ade membawakan lagunya yang meledak pada medio 1979 dengan judul Arti Sebuah Nama saat konsernya Ebiet G Ade untuk Bandung: Bandung Makin Teduh di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/5/2010) malam. KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHOPenyanyi balada Ebiet G Ade membawakan lagunya yang meledak pada medio 1979 dengan judul Arti Sebuah Nama saat konsernya Ebiet G Ade untuk Bandung: Bandung Makin Teduh di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/5/2010) malam.

 

Martabat manusia

Lantas, di mana letak lebih berharga dan terhormatnya mereka? Persis pada martabat sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang mereka tetap rawat dan pertahankan.

Mereka memang terimpit oleh derita kemiskinan, namun mereka tidak sudi keluar dari impitan itu dengan mengorbankan martabat dan nurani mereka.

Tertangkapnya para penyuap dan koruptor yang tak ada matinye menambah daftar orang tak yang tidak berhikmat dan tidak bermartabat, yang ingin berkibar-kibar dengan kerja-kerja curang, sambil mengorbankan orang lain.

Mereka menutup rapat-rapat telinga fisik dan telinga nurani mereka atas bisikan yang meski lembut, namun tegas menyampaikan pesan bahwa aksi yang tercela itu telah menelan banyak korban dalam aneka rupa.

Camkan! Membuang sisa makanan saja, oleh Paus Fransiskus sudah dikategorikan sebagai tindakan merampas hak orang miskin.

Ketika berjalan menyusuri kampung-kampung kumuh, rel kereta, atau melongok pinggiran kali, terserak di sana gambaran amat jelas tentang kemiskinan.

Hidup mereka memang susah, namun masih bisa kita temui prinsip hidup yang teguh nan bermartabat.

Cemburu

Di sinilah Ebiet mengaku merasa cemburu, dan mestinya kita semua cemburu olehnya.

Memang, lapar anak mereka tidak pernah tuntas karena makanan yang selalu kurang, atau bahkan tidak ada makanan.

Namun keadaan ini tidak menjadi alasan bagi mereka menghancurkan martabat dan harga diri mereka.

Padahal, kalau dilihat dari keterdesakan, alasan ekonomi, mereka bisa saja melakukan aksi-aksi kejahatan—meski ada juga yang terjerembab melakukan aksi-aksi itu.

Dalam obrolan ringan dengan seorang tukang ojek sepeda di pinggir jalan di Tanjung Priok, terdengar pengakuan bahwa dia tidak pernah cemburu dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih indah, nyaman, serba enak, dan sebagainya.

Dia juga tidak mau ambil pusing walau menyaksikan di layar TV para koruptor mencuri uang rakyat dengan memanfaatkan kepandaian dan peluang untuk bersiasat.

“Yang pasti, saya hanya mau makan dan minum dari keringat karena mengayuh sepeda ini. Rasanya mantap makan dari kerja berkeringat ini. Gak usah nuntut berlebihan. Bersyukur saja,” ujarnya sambil mengelap keringatnya dengan handuk putih yang sudah berubah warna menjadi nyaris hitam.

Inilah orang yang lebih kaya daripada mereka yang tampak berada karena bermobil mewah, menyembulkan aroma wangi bersumber dari parfum mahal, berpendidikan tinggi, pandai bicara, tampak sopan, namun berkelakuan maling.

Simak lagi:

Maka sesungguhnya mereka lebih kaya
meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia
Dapat mensyukuri yang dimiliki

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X