A Kurniawan Ulung
Dosen

Dosen program studi Hubungan Internasional di Universitas Satya Negara Indonesia

Mengakhiri Perundungan di Indonesia: Belajar dari Kasus Ji Soo dan Drama Beautiful World

Kompas.com - 20/03/2021, 20:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kedua orangtua Sun Ho kemudian menemukan fakta bahwa perundungan yang mereka sedang selidiki lebih buruk dari apa yang mereka duga sebelumnya, dan putra mereka ternyata bukan satu-satunya korban.

Perundungan di Indonesia

Beautiful World menyadarkan kita bahwa orangtua tidak boleh sepenuhnya percaya bahwa sekolah merupakan tempat yang aman bagi anak.

Dengan menonton Beautiful World, kita akan menjadi lebih waspada akan tiga hal, yakni buruknya sistem pengawasan sekolah sehingga guru atau wali kelas gagal mendeteksi praktik perundungan di lingkungan sekolah; lemahnya hubungan interpersonal antara murid dan guru sehingga murid takut melaporkan kasus perundungan kepada guru atau wali kelas; dan matinya nurani pejabat sekolah sehingga ia lebih memprioritaskan menjaga nama baik sekolah dari pada membela korban perundungan.

Beautiful World juga membuat kita lebih peka kepada korban perundungan.

Masalah perundungan, sayangnya, masih dianggap remeh oleh sejumlah guru dan orangtua sehingga keluhan dari siswa yang menjadi korban tidak digubris. Akibatnya, mereka lebih memilih memendam dari pada menceritakan kekerasan yang dialaminya.

Perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga berbentuk kekerasan verbal seperti ejekan terus menerus terhadap bentuk tubuh, penampilan, dan latar belakang ekonomi, suku, agama, dan ras.

Ejekan tidak hanya bisa menyebabkan korban tertekan dan depresi, tetapi juga berpotensi mendorong korban menutup diri dari lingkungan sekitar dan mengambil tindakan ekstrem, seperti mengakhiri hidup.

Pada tahun 2005, seorang siswi SD di Bekasi, Jawa Barat, bunuh diri akibat tertekan oleh ejekan terhadap keluarganya yang tidak mampu, dan kisah tragis ini terulang kembali pada tahun 2017 ketika seorang siswi SMA di Bangkinang, Riau, bunuh diri akibat tertekan oleh ejekan terhadap orang tuanya yang memiliki masalah psikis

Pada tahun lalu, seorang siswi SMK di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi dipaksa mencium kaki seorang siswa dari sekolah yang berbeda, dan seorang siswa SMP di Purworejo, Jawa Tengah, dihajar oleh kakak kelas dan teman sekelasnya hingga leher, pinggang, kaki, dan pinggangnya lebam.

Menurut laporan KPAI, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan fisik meningkat dari 157 pada 2019 menjadi 249 pada 2020. Sedangkan jumlah korban kekerasan psikis mencapai 119 pada 2020, meningkat drastis dari 32 pada tahun sebelumnya.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.