Pandji Pragiwaksono Jadi Pemuda "Cupu", Ini Tanggapan Anak-anaknya - Kompas.com

Pandji Pragiwaksono Jadi Pemuda "Cupu", Ini Tanggapan Anak-anaknya

Sintia Astarina
Kompas.com - 19/06/2017, 16:46 WIB
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Pandji Pragiwaksono berpose di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) saat mengunjungi kantor redaksi Kompas.com, Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (19/6/2017). Dalam kunjungan tersebut, ia mempromosikan film komedi terbarunya yang berjudul Insya Allah, Sah

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam film Insya Allah, Sah!, komika Pandji Pragiwaksono (38) berperan sebagai Raka, pemuda cupu yang aneh dan menyebalkan.

Ia selalu menghantui hidup Silvi ( Titi Kamal), yang pernah terjebak satu lift dengannya.

Memang, tokoh yang diperankan Pandji ini memang berbeda sekali dengan kehidupan aslinya.

Namun, demi mendalami karakter Raka tersebut, Pandji kerap menjadi Raka, meski sedang berada di luar lokasi pengambilan gambar sekalipun.

"Kalau ketemu sesama cast, walaupun enggak lagi shooting, ngomongnya harus jadi Raka,  ya sudah, supaya Raka-nya larut," ucapnya beberapa waktu lalu.

Sama seperti dirinya berkunjung ke Redaksi Kompas.com di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Senin (19/6/2017), Padji juga berpenampilan seperti Raka.

Rambut bermodel helm yang khas, gigi kelinci, tahi lalat di kiri dagu, hingga kemeja batik pekalongan yang dikenakannya.

Ia pun menceritakan bagaimana reaksi kedua anaknya ketika melihat dirinya berpenampilan cupu seperti itu.

“Ada fotonya pas ngelihat Raka, bingung dia (anak-anak). Shocked. Kesel dia,” ujar Pandji sambil menunjukan reaksi wajah anak-anaknya.

“Istri yang ngasih tahu, itu Ayah main film. Trus tadi malem anak-anak telepon, bilang ‘Ayah, jangan terlalu sering main film’. Nanti dia sedih pasti,” sambungnya.

Titi Kamal yang hadir di samping Pandji mengungkapkan bahwa dirinya ingin melihat Pandji tetap berpenampilan seperti Raka.

“Gue kayaknya lebih fun sama Raka deh. Gimana kalau lo gini terus? Hahaha. Soalnya kalau Pandji kan dia jaim banget,” timpal Titi.

PenulisSintia Astarina
EditorKistyarini
Komentar