Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Kompas.com - 02/09/2020, 07:33 WIB
Coming Home with Leila Chudori Feat. Seno Gumira Ajidarma 
DOK. LEILA S CHUDORIComing Home with Leila Chudori Feat. Seno Gumira Ajidarma

"Tepat pukul duabelas malam, pada sebuah persimpangan di pinggir kota, seorang gelandangan ke depan kereta komuter terakhir dan terlempar serratus meter ke barat. Koran lampu merah yang terbit keesokan sorenya melaporkan bahwa ada begitu banyak pertanda janggal ihwal mayat sang gelandangan. Tubuhnya tidak tercerai berai seperti pengendara motor yang diserempet kereta barang sekian malam sebelumnya. Bahkan polisi yang tiba di lokasi berani sumpah mati bahwa tubuh tersebut tak mengalirkan setetes pun darah. Mayatnya bau semerbak bunga, katanya. Gelandangan itu meninggal dengan senyum di wajahnya."

("Belajar Menanam Bapak", Raka Ibrahim)

PETIKAN cerita itu adalah salah satu cerita pendek Raka Ibrahim di dalam kumpulan " Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya" (Commabooks, Kepustakaan Populer Gramedia, 2018).

Kumpulan ini berkisah tentang seorang lelaki yang berupaya menyelamatkan hubungannya dan perempuan yang dicintainya.

Dinarasikan dengan gaya Kisah 1001 Malam, kita akan menemui berbagai cerita: dari cerpen "Belajar Menanam Bapak" yang jenaka tentang seorang ayah pecundang; lalu cerita silat yang lucu seperti "Pendekar dari Bulan", hingga kisah romantis seperti "Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya".

Dalam serangkaian ceritanya, Raka berkisah dengan santai dan naratif, dan beberapa ceritanya nyaris tanpa plot karena fokusnya lebih kepada setiap tokohnya yang unik, yang tak keberatan untuk terlihat sebagai pecundang atau yang jenaka.

Dalam cerita "Gambar Bergerak"--cerita pendeknya yang terbaik menurut saya--Raka menggunakan imajinasi bagaimana pemerintah (antah berantah) memberikan terapi "penghapusan ingatan" kepada warganya.

Cerita ini dimulai dari seorang perempuan dan lelaki bertemu di peron dan sama-sama naik kereta setelah menjalani penghapusan ingatan. Mereka harus mencari nama, identitas baru setelah penghapusan itu.

Cerita ini dikisahkan sembari membangun sebuah suasana sunyi mengiris, karena menurut si penulis, kenangan lama yang masih suka berkelebat disebut "residu". Dan, tentu saja jejak residu itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk tokoh lelaki dan perempuan ini.

Cerpen ini, bukan saja yang terbaik, tetapi juga paling cerdas karena Raka menggunakan segenap "fasilitas" yang dimiliki generasinya: pengetahuan yang dalam dan luas, bacaan dan referensi yang lengkap, serta bakat dan kemampuan berkisah yang bersinar.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X