Terinspirasi Seorang Anak Kecil, Teater Koma Pentaskan Lakon Warisan - Kompas.com

Terinspirasi Seorang Anak Kecil, Teater Koma Pentaskan Lakon Warisan

Tri Susanto Setiawan
Kompas.com - 27/07/2017, 20:26 WIB
Tim produksi Teater Koma diabadikan di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2017). Mereka mementaskan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, pada 10 hingga 20 Agustus 2017.KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN Tim produksi Teater Koma diabadikan di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2017). Mereka mementaskan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, pada 10 hingga 20 Agustus 2017.

JAKARTA, KOMPAS.com - Teater Koma akan mementaskan lakon "Warisan" di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, pada Agustus 2017 mendatang.

Penulis cerita dan sutradara Nano Riantiarno mengatakan, bahwa cerita yang ditulisnya pada 2017 itu diinspirasi dari sikap cucunya yang bernama Kiva berusia tiga tahun.

"Ya benar karena Kiva. Dia kalau ada musik enggak mau lihat. Tapi, kali ini dia nonton. Ada apa ya? Enggak tahu juga," kata Nano di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2017).

"Dia belum bisa ngomong, kalau ditanya jawabannya kacau. Kalau bisa ngomong nanti saya tanya kenapa sih," sambung dia.

Aksi para seniman Teater Koma dalam pementasan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017). Lakon Warisan bercerita tentang Panti Wredha yang menjadi kebanggan kota, dimana kaum tua dan terlantar ditampung di panti serta menyinggung soal korupsi dan utang.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Aksi para seniman Teater Koma dalam pementasan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017). Lakon Warisan bercerita tentang Panti Wredha yang menjadi kebanggan kota, dimana kaum tua dan terlantar ditampung di panti serta menyinggung soal korupsi dan utang.
Inspirasi itulah yang membuat Nano mengubah konsepnya, yakni menjadi tanpa musik.

Berbeda dengan kebiasaan Teater Koma yang selalu memberi sentuhan musik pada setiap penampilannya. Termasuk pentas Opera Ikan Asin pada Maret lalu pun, penuh dengan unsur musik.

[Baca juga: Teater Koma Pentaskan Warisan yang Sunyi]

Menurut Nano, pentas kali ini juga akan menjadi tantangan bagi para pemain Teater Koma sendiri. Sebab, rata-rata pemain Teater Koma berusia di atas 50 tahun. Hanya tiga orang yang berada di bawah usia itu.

"Mudah-mudahan waktu enggak ada musik, setiap pemain bagus," kata dia.

Selan itu, ini merupakan sebuah penyegaran bagi Teater Koma kepada penikmat lakon pertunjukkan mereka.

Aksi para seniman Teater Koma dalam pementasan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017). Lakon Warisan bercerita tentang Panti Wredha yang menjadi kebanggan kota, dimana kaum tua dan terlantar ditampung di panti serta menyinggung soal korupsi dan utang.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Aksi para seniman Teater Koma dalam pementasan lakon berjudul Warisan yang merupakan produksi ke-149 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017). Lakon Warisan bercerita tentang Panti Wredha yang menjadi kebanggan kota, dimana kaum tua dan terlantar ditampung di panti serta menyinggung soal korupsi dan utang.
"Artinya orang akan melihat sebagai penyegaran yang lain. Jadi bisa aja mereka tertawa karena kontroversi (dari cerita) yang terjadi. Saya mengerjakan serius. Tidak ada sama sekali teks yang berubah," katanya.

Produksi Teater Koma ke-149 berjudul 'Warisan' bercerita tentang Panti Wredha yang menjadi kebanggan kota. Kala itu, kaum tua dan terlantar ditampung di panti tersebut.

Namun, delapan tahun kemudian, panti mulai menampung orang kaya yang mampu membayar mahal. Panti pun dibagi untuk orang kaya dan orang miskin. Berbagai macam karakter mulai dari penulis hingga koruptor ada di situ.

[Baca juga: Membaca Teater Koma, Catatan Perjalanan 40 Tahun]

PenulisTri Susanto Setiawan
EditorBestari Kumala Dewi
Komentar