Album Endah N Rhesa Selalu Lekat dengan Seni Visual - Kompas.com

Album Endah N Rhesa Selalu Lekat dengan Seni Visual

Kompas.com - 04/07/2014, 18:51 WIB
KOMPAS.com/IRFAN MAULLANA Endah N Rhesa tampil di pameran seni Message Stick: Indigenous Identity in Urban Australia yang digelar di D'Gallerie Jalan Barito I no 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (3/7/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak merilis mini album perdananya sembilan tahun lalu, duo Endah N Rhesa yang terdiri dari Endah Widiastuti (gitar) dan Rhesa Adityarama (bas), selalu lekat dengan seni visual.

Hal itu juga tampak sampul album Nowhere To Go (2009), Look What We've Found (2010), dan Escape (2013) yang telah mereka rilis. Menurut Endah, seni visual sudah menjadi kegemaran mereka di luar kegiatan bermusik.

"Memang hobi kami selain audio itu salah satunya adalah video, terus kami juga suka gambar-gambar. Kayak Rhesa kan suka dengan komik, saya juga suka komik," kata Endah usai tampil bersama Rhesa di pameran seni Message Stick: Indigenous Identity in Urban Australia yang digelar di D'Gallerie Jalan Barito I no 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (3/7/2014) malam.

Endah menilai, album kedua mereka, Look What We've Found cukup memiliki nilai seni visual.

"Kayak album kedua, itu cukup visual banget. Kami memang suka ngebayangin apa, dan kalau lihat ada gambar bagus kayaknya enak nih dibikin lagu atau gimana gitu," ujar Endah.

Diceritakan Endah, kebiasaan memilih seni visual sebagai sampul album bermula dari kegemaran Rhesa dalam menggambar. "Itu Rhesa tuh, dia suka gambar," kata Endah.

"Iya saya sua gambar sih, tapi gambar saya kayak anak SD. Seadanya saja," sambung Rhesa menimpali sang istri.

Dari hobi gambarnya itulah Rhesa mulai merancang sendiri sampul album perdana Endah N Rhesa, No Where To Go.

"Dari dulu saya memang cita-citanya jadi arsitek tapi enggak kesampaian, kuliahnya malah IT. Gambar itu salah satu passion saya sih, dan sudah lama saya tinggalin.

Pas album pertama itu saya konsultasi dengan bosnya label kami. "Pak gimana nih kalau album kami itu cover-nya itu foto", tapi dia bilang, "Ini kayak album biasa, album kalian harus lebih dari ini'," kisah Rhesa.

"Akhirnya saya memberanikan diri untuk gambar. Endah yang encourage, 'Udah lo bisa kok'," sambung dia.

Bukan sekadar sampul saja, Endah N Rhesa juga banyak mencari inspirasi visual untuk dijadikan materi audio lagu mereka. "Dulu awal-awal album kami, kayak yang 'Midnight Sun' ini kan kami dapatnya di Bali," ujar Rhesa.

"Maksudnya di album kedua kami, Look What We've Found itu kan temanya hutan dan pantai. Akhirnya buat cari mood-nya yuk kita ke Bali," sambung Endah.

"Tapi di album ketiga kami inspirasinya itu space, jadi enggak mungkin kami ke luar angkasa. Jadi kami paling riset aja, kami nonton Armagedon lagi, nonton Star Wars lagi, Star Trek, untuk mevisualisasikan si album ini," tutur Rhesa.

Sementara itu, berkait dengan pameran seni visual Message Stick: Indigenous Identity in Urban Australia yang diadakan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia di D'Gallerie mulai 6-13 Juli 2014, Endah N Rhesa mengaku sangat menyukai karya-karya yang dibuat oleh 11 seniman penduduk asli yang tinggal di daerah perkotaan di seluruh Australia.

Para seniman tersebut termasuk Reko Rennie, yang tahun ini akan menjalani program mondok seni Asialink dengan Cemeti Art House di Yogyakarta.

"Terus kalau lihat yang gini-gini (seni visual) juga kami suka, kami suka lihat warnanya, suka teksturnya juga. Karena itu semua kan berkaitan satu sama lain, enggak cuma musik saja," ungkap Endah.

Pameran ini berlangsung bersamaan dengan Pekan NAIDOC yang diselenggarakan di Australia pada tanggal yang sama dalam rangka merayakan sejarah, budaya, dan prestasi penduduk Aborijin dan Selat Torres.


EditorTri Wahono

Close Ads X