Wajah Politik Kita di Film "Tjokroaminoto"

Kompas.com - 07/04/2015, 16:09 WIB
Garin Nugroho hadir dalam jumpa pers peluncuran film Guru Bangsa Tjokroaminoto di Mangi Tree Cafe, Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015). KOMPAS.com/YULIANUS FEBRIARKOGarin Nugroho hadir dalam jumpa pers peluncuran film Guru Bangsa Tjokroaminoto di Mangi Tree Cafe, Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015).
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS -- Namanya selalu dikait-kaitkan dengan sejumlah tokoh besar di negeri ini, mulai dari Semaoen, Muso, Kartosuwiryo, Tan Malaka, hingga Soekarno. Tumbuh di tengah masa perbudakan kolonialisme Belanda, Tjokroaminoto mengobarkan semangat nasionalisme yang berpijak pada prinsip sama rata sama rasa. Sineas Garin Nugroho dan Christine Hakim menggarapnya ke dalam sebuah film.

Tjokroaminoto merupakan nama besar yang terlupakan. Sosoknya hanya kerap diingat dalam pelajaran Sejarah sekolah dasar atau paling tidak sebatas dikenang sebagai nama jalan. Tidak banyak orang tahu apa peran Tjokroaminoto bagi perjalanan sejarah bangsa yang kini berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini.

Bagi sutradara Garin, Tjokro merupakan sosok guru bangsa. Ia melahirkan gerakan kemanusiaan yang diinisiasi oleh kaum priayi. Tjokro juga menerapkan prinsip berjuang tanpa kekerasan. Ia tidak pernah mempersoalkan ideologi yang datang bersamaan pada masa itu.

"Semua ideologi itu baik. Yang bahaya adalah jika tangan ini digunakan untuk menerjemahkannya dalam bentuk kekerasan," kata Tjokro yang dalam film diperankan oleh Reza Rahadian.

Ketika Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi pada 1901, Tjokro dengan cantik memainkan perannya sebagai priayi untuk menyejajarkan kedudukan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sejajar dengan Belanda. Tjokro mengukuhkan kesejajaran itu dengan identitas cara berpakaian.

Meski ia telah meninggalkan kehidupannya sebagai priayi dan memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa, Tjokro tetap tidak menanggalkan jas yang dipadu dengan jarik (kain batik) dan blangkon.

Dengan pakaian itu, ia menolak disentuh secara tidak sopan oleh opsir-opsir Belanda. Dengan pakaian itu pula, Tjokro menolong kuli-kuli perkebunan atau buruh pelabuhan yang disiksa Belanda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Garin membuka adegan dengan suasana Penjara Kalisosok, Surabaya, Jawa Timur, berlatar belakang tahun 1921. Di tempat itulah, Tjokro dipenjarakan oleh Belanda. Pidato-pidatonya tentang kesetaraan dan kemandirian ekonomi dianggap menghasut dan membangkitkan perlawanan kaum buruh.

Dari penjara muncul dialog panjang lebar tentang ihwal perjuangan Tjokro. Penonton kemudian dibawa ke masa lalu Tjokro untuk menggambarkan kronologi perjalanan hidup seorang Tjokro. Digambarkan, sejak remaja sudah muncul kesadaran akan bangsa yang tertindas dalam diri Tjokro.

Kesadaran sejak dini
Kesadaran itu muncul dari pengalaman sehari-hari yang ia temui. Tjokro kecil sering melihat kuli-kuli perkebunan kapas dipukul bertubi-tubi hingga berdarah-darah karena melakukan kesalahan kecil saja.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.