Kekuatan Perempuan Bernama Marlina dalam Budaya Patriarki

Kompas.com - 28/05/2017, 15:00 WIB
Marsha Timothy dibadaikan sesudah konferensi pers film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Plaza Indonesia XXI, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/5/2017) sore. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGMarsha Timothy dibadaikan sesudah konferensi pers film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Plaza Indonesia XXI, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/5/2017) sore.
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sumba di Indonesia dan Cannes di Perancis dihubungkan oleh film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya sutradara Mouly Surya.

Sumba adalah tempat Marlina mencari keadilan meski terpaksa terperangkap dalam lumpur kekejian. Cannes menjadi panggung Marlina mencoba memberi sudut pandang perempuan tak boleh diam saat kehidupan dirampas dan kehormatan dinodai.

Film Marlina merupakan film ketiga Mouly, berdurasi 93 menit, dan dikembangkan dari ide awal sutradara Garin Nugroho.

Baca juga: Warisan Garin Nugroho untuk Mouly Surya

Marlina diperankan oleh Marsha Timothy, didukung Egi Fadly sebagai Markus si pemimpin komplotan perampok, Yoga Pratama sebagai Frans si anggota, dan Dea Panendra sebagai Novi si tetangga Marlina yang sedang hamil tua.

Marlina menjadi satu-satunya film dari Asia Tenggara yang diputar di Festival Film Internasional Cannes 2017.

Selain itu, satu-satunya film dari Asia yang lolos seleksi dan diputar di kategori bukan kompetisi Quinzaine Des Realisateurs (Directors' Fortnight).

Marlina lolos seleksi dari 1.600 film yang mendaftar untuk kategori pilihan asosiasi sutradara sedunia itu.

Baca juga: Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Lolos Tayang di Cannes 2017

Marlina mengambil latar kehidupan masyarakat Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur yang belum terlalu dikenal, tetapi amat indah dan memukau.

Lanskap savana, langit biru, jalan sempit berkelok, dan rumah jarang menunjukkan sisi sunyi Indonesia yang kadung kondang karena hutan hujan tropis yang hijau sehingga dijuluki "Zamrud Khatulistiwa".

Pengambilan gambar cenderung statis. Mouly seakan ingin merangkai kumpulan foto kartu pos lanskap Sumba yang indah.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
komentar di artikel lainnya
Close Ads X