Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Keluarkan Penonton dari Zona Nyaman

Kompas.com - 09/11/2017, 23:05 WIB
Gala premier film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (9/11/2017). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGGala premier film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (9/11/2017).
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sepekan lagi, tepatnya 16 November 2017, film , akan pulang ke Tanah Air setelah berkeliling di berbagai festival internasional.

Sang sutradara, Mouly Surya, mengatakan bahwa film arahannya itu berbeda dari film kebanyakan. Marlina, lanjutnya, akan menarik penonton dari zona nyaman.

"Ini film yang akan mengeluarkan penonton dari zona nyaman," kata Mouly di sela gala premier film Marlina di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (9/11/2017).

Sebab, kisah yang ia angkat bukan lah tema yang populer. Bukan drama-komedi, laga, atau cerita remaja. Lokasinya bukan pula masalah perkotaan seperti film-film lain.

[Baca juga : Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dipuji di Toronto]

Namun, soal seorang perempuan Sumba dengan permasalahannya.

"Film seperti ini penting dibuat karena kita perlu keluar dari zona nyaman kita. Penting ditonton karena kita bisa lihat keberagaman Indonesia," kata Mouly.

"Ini yang saya bilang ketika film ini diputar di luar. Mereka (penonton internasional) nanya, 'kan Indoneska mayoritas Islam, kok film kamu enggak ada yang pake jilbab?'. Saya bilang, karena film saya mengambil lokasi yang mayoritas agamanya marapu, ini keberagaman kami yang harus dikeluarkan," sambungnya.

Mouly berharap, penonton Indonesia mulai 16 November nanti berani melangkah ke luar dari zona nyamannya dan menyaksikan petualangan Marlina.

"Saya tidak ada target khusus film ini harus berapa atau harus jutaan penonton. Mungkin top ten enggak ya, tapi saya optimis. Yang pasti kalau film saya itu mungkin orang harus keluar dari zona nyaman mereka untuk nonton film saya," ucap Mouly.

[Baca juga : Untuk Marlina, Marsha Timothy Latihan Potong Kepala Selama Dua Hari]

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak berkisah tentang seorang janda asal Sumba bernama Marlina (Marsha Timothy) yang memenggal kepala seorang perampok, Markus (Egi Fedly), yang menyatroni rumahnya.

Marlina kemudian membawa kepala si perampok dalam sebuah perjalanan ke kantor polisi. Proyek ini merupakan hasil kerjasama Cinesurya dengan Kaninga Pictures, Sasha & Co. Production (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), Hooq Originals (Singapura), dan Purin Pictures (Thailand).

Marlina mendapatkan dukungan dari dua kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Perancis lewat Cinemas du Monde dan pusat sinema CNC, Institut Francais.

[Baca juga : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Diiringi Lazuardi]



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X