Syamsul Fuad: Bicara Hak Cipta Benyamin Biang Kerok Harusnya ke Saya

Kompas.com - 05/04/2018, 13:19 WIB
Syamsul Fuad, penulis cerita Benyamin Biang Kerok, di sela menunggu jadwal sidang perkara kasus dugaam pelanggaram hak cipta film tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGSyamsul Fuad, penulis cerita Benyamin Biang Kerok, di sela menunggu jadwal sidang perkara kasus dugaam pelanggaram hak cipta film tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penulis cerita asli dari film Benyamin Biang Kerok (1972), Syamsul Fuad, mempertanyakan pembelian hak cipta film tersebut oleh Max Pictures dan Falcon Pictures.

Sebelumnya, produser dari Max Pictures Ody Mulya Hidayat mengaku sudah membeli hak cipta film Benyamin Biang Kerok yang didaur ulang oleh sutradara Hanung Bramantyo.

Sebagai informasi, hak cipta film Benyamin Biang Kerok digugat oleh Syamsul ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 5 Maret 2018 lalu.

"Mereka merasa mereka sudah membeli dari keluarga almarhum (Benyamin). Apa yang dibeli enggak jelas, yang pasti bukan hak cipta. Kalau ngomong hak cipta harusnya ke saya dong," ujar Syamsul di sela menunggu sidang perkara tersebut dimulai di PN Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).

Ia menegaskan meski hanya judul film yang persis sama, film Benyamin Biang Kerok versi baru tetap mengadaptasi alur cerita dari naskah asli yang ia tulis bertahun-tahun lalu.

"Judul dan inti cerita, dia punya roh ceritanya itu tetap mengambil dari ide saya. Alur cerita. Walaupun digarap teknisnya dia bolak-balik, berdasarkan masa kini," kata Syamsul.

Karena itu, ia sebagai pencipta cerita tersebut merasa berhak atas royalti film Benyamin Biang Kerok itu. Syamsul mengaku bingung mengapa pihak rumah produksi malah menganggap sudah punya izin produksi dengan hanya berbekal izin keluarga mendiang Benyamin.

"(Izin) ke keluarga almarhum Benyamin. Dia merasa udah membeli dari keluarga almarhum. Apa yang dibeli? Itu persoalannya. Hak cipta? Hak cipta ama saya. Buat saya enggak ada relevansinya dengan pihak keluarga almarhum, yang mau produksi Falcon kok, bukan keluarga Benyamin," kata Syamsul.

Namun, bukan berarti sebelum melayangkan gugatan ini Syamsul tak pernah berkomunikasi dengan pihak Falcon muaupun Max Pictures. Ia mengatakan sudah pernah berunding dengan dua rumah produksi tersebut sebelum penggarapan Benyamin Biang Kerok yang baru.

"Pernah saat perundingan waktu itu sebelum berlanjut begini, memang saya minta Rp 25 juta. Mereka bilang cuma bisa kasih Rp 10. Sisanya akan dilimpahkan ke keluarga almarhum," ujar Syamsul.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X