Seni Buruk Rupa yang Mencerahkan

Kompas.com - 26/06/2018, 21:26 WIB
Kukuh Nuswantoro, Kegelapan, 2017 Indonesia UOB Painting of the Year, Foto: uobpoy.com Dok uobpoy.comKukuh Nuswantoro, Kegelapan, 2017 Indonesia UOB Painting of the Year, Foto: uobpoy.com

“William Shakespeare meraih puncak sukses dalam puisi modern awal, karena ia penyair yang memadukan keindahan dan keburukan seperti realita di alam semesta. Kecantikan lumrahnya tak menampik kejelekan” (Umberto Eco, On Ugliness, 2007).

KUTIPAN dari Umberto Eco, pemikir kebudayaan dari Italia di atas adalah sebuah pernyataan yang esensial tentang seni dan hidup. Manusia memang ditakdirkan ringkih, jauh dari sempurna.

Kecantikan juga tak abadi, waktu dan perilakulah yang memudarkan. Seni berabad-abad memeluk erat keburukan dengan pertunjukan-pertunjukan drama, lukisan-lukisan, teks-teks sastra provokatif agar kita tak pongah, sebab manusia acapkali lengah.

Karya seni menjadi lahan kontradiktif sekaligus kontemplatif, membincangkan hidup yang menyimpan kerapuhan-kerapuhan, seperti: tragedi, kebinasaan, kekerasan, teror, keputus-asaan. Namun ia merayap, menyibak harap yang ditambatkan justru dari penggambaran peristiwa memilukan.

Eco menceritakan dari awal hingga akhir, laiknya sebuah leksikon. Tiap-tiap zaman, ribuan tahun terlewat bagaimana sejarah seni ditampilkan dalam narasi, visualisasi atau penggambaran makna-makna yang buruk, tentu dengan argumen-argumen mencerahkan dari tiap era.

Baca juga: Ketika Desain Sekolah Perbatasan Indonesia Menembus Publik Venesia Italia

 

Eco mengutipnya dari kata-kata dan karya-karya para novelis, penulis, penyair, pelukis, filsuf dll dalam bukunya On Ugliness tersebut.

Demikian pula di karya lukisan milik Kukuh Nuswantoro dalam ilustrasi lukisan di awal tulisan ini. Kukuh menggambarkan sebuah peristiwa tragik dengan visualisasi kengerian-kengerian.

Sekumpulan figur-figur menyerupai manusia tengah berkerumun dalam keganjilan. Ekspresi-ekspresi mukanya, sosok-sosoknya menyiratkan kesedihan, kemuraman, angkara murka dengan goresan-goresan perih yang ekspresif, dikelilingi bangunan-bangunan ilustratif menjulang yang nampak lamat-lamat tergambar di latar belakang.

“Peradaban modern melahirkan orang-orang cerdas menguasai dunia. Apa saja bisa diciptakan dengan teknologi terkini, dan nilai-nilai kemanusiaaan telah dikesampingkan. Politik dan uang memaksa nafsu jahat, menjadi tak terkendali dan di sanalah perang total dimulai,” ujarnya.

Namun, jika kita jeli, Kukuh memberi penanda harap, meski ia secara keseluruhan mempresentasikan kondisi yang skeptis. Masih di latar lukisannya, yang menampak warna kebiruan, ada sosok berpelukan, keinginan Kukuh menguatkan jiwa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X