Kimo Stamboel Harus Tahan Diri Saat Garap Film DreadOut demi Lulus Sensor

Kompas.com - 12/12/2018, 18:49 WIB
Sutradara Kimo Stamboel saat wawancara promo film DreadOut di Menara Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Film yang bergenre horor ini diangkat dari sebuah game buatan developer lokal Indonesia yaitu Digital Hapiness. Film ini akan segera tayang pada 3 Januari 2019 mendatang. KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELISutradara Kimo Stamboel saat wawancara promo film DreadOut di Menara Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Film yang bergenre horor ini diangkat dari sebuah game buatan developer lokal Indonesia yaitu Digital Hapiness. Film ini akan segera tayang pada 3 Januari 2019 mendatang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sutradara Kimo Stamboel mengaku harus menahan diri, agar film action-horror DreadOut yang digarapnya bisa lulus dari Lembaga Sensof Film (LSF).

"Dari awal gua sudah diwanti-wanti oleh produser. 'Kim, lu kalau bisa bikin film yang klasifikasi 17 tahun aja'. Film gua sampai detik ini belum ada yang klasifikasi 17 tahun, di atas 21 tahun semua," ujar Kimo saat berbincang di ruang redaksi Kompas.com di Menara Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (12/12/2018).

"Akhirnya gua coba deh, gua kejar ke 13 tahun bisa enggak di film ini. Jadi memang sedikit ada ngeremnya. Kita lihat aja nanti. Sekarang aja masih proses nih di Lembaga Sensor Film. Enggak tahu nih keluarnya apa," sambung Kimo dengan nada optimis.

Baca juga: Ciccio Manassero, Si Berandal Penakut dalam Film DreadOut

Eksekutif produser Wida Handoyo membenarkan, bahwa ia telah meminta Kimo untuk menahan diri untuk tidak membuat film yang berdarah-darah.

Bersama Mo Brother, sebutan untuk duet sutradara Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto, mereka memilih ciri khas film yang berdarah-darah.

"Kami ngobrol antar produser, kami diskusi bagaimana maksimal di klasifikasi 17 tahun, walaupun kami mencoba di klasifikasi 13 tahun. Kami coba di 13 tahun. Tapi, karena cerita, dan Kimo punya Mo Brohter kami enggak mau menghilangkan juga, kami enggak mau kehilangan itu," ujar Wida.

"Akhirnya kami sepakat di klasifikasi 17 tahun maksimal. Tapi, enggak mau lebih ke 21 tahun. Adegan-adegan khas Kimo harus ada, itu yang bikin beda dari horor lain. Yang darah-darahnya itu dikurangi, itu yang kami coba," sambungnya.

Film DredOut merupakan film yang diadaptasi dari sebuah permainan game video berjudul sama yang dibuat oleh Rachmad Imron.

DreadOut menjadi game indie horror yang populer di platform internasional STEAM dan menjadi semakin popular ketika PewDiePie (YouTuber Internasional) memberikan review positif terhadap game ini

Untuk versi filmnya digarap oleh rumah produksi GoodHouse Production bekerja sama dengan CJ Entertainment, Sky Media, dan Nimpuna Sinema & Lyto.

Film ini mengisahkan bagaimana Linda yang memiliki kekuatan supranatural bisa terjebak di dalam “DreadOut” bersama kakak-kakak kelasnya. Rencananya akan tayang pada 3 Januari 2019 di seluruh jaringan bioskop Tanah Air.

Baca juga: Caitlin Halderman Ingin Penuhi Ekspektasi Penggemar Game Dreadout



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X