Kostum Bumi Manusia Dikritik Tajam, Begini Penjelasan Fashion Designer

Kompas.com - 23/08/2019, 06:15 WIB
Adegan film Bumi Manusia, Minke pertama kali bertemu dengan Annelies Mellema Falcon PicturesAdegan film Bumi Manusia, Minke pertama kali bertemu dengan Annelies Mellema

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kostum para pemeran film Bumi Manusia mendapatkan kritikan tajam dari warganet, termasuk kreator di bidang fashion Rumi Siddharta. 

Dalam unggahannya di Instagram, ia mengkritik kostum pemeran Annelies, gaya rambut serta jas Minke, dandanan Nyai Ontosoroh hingga kostum karakter orang Belanda. 

Menanggapi hal ini, Fashion Designer Bumi Manusia Retno Ratih Damayanti mengaku selalu melakukan riset sebelum membuat kostum-kostum tersebut. 

"Saya tahu itu sumbernya darimana dan sayangnya itu dipercaya sebagai satu-satunya yang benar," kata Retno kepada Kompas.com, di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Museum Bumi Manusia, Buah Kegelisahan Hanung Bramantyo

Ia mengaku pernah membuat kostum dengan latar periode sama untuk film Kartini.

Retno meminta warga menonton film Bumi Manusia terlebih dahulu secara utuh sebelum mengkritik kostum maupun hal lainnya.

Sebab, kritikan-kritikan tersebut muncul dan ramai diperbincangkan di media sosial sebelum filmnya tayang di bioskop.

Baca juga: Sri Mulyani: Film Bumi Manusia Sangat Layak Ditonton

"Saya bukannya enggak senang kritik, saya sangat menghargai kritik, berarti ada yang peduli, tetapi yang saya sayangkan dia hanya bermodal potongan foto," ujar Retno.

 

"Paling tidak saya bisa menyangkal bahwa tidak ada satu pun baju yang saya bikin dengan retsleting," katanya. 

Gaun Annelies sebelumnya dikritik karena dianggap menggunakan retsleting. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata Annelies menggunakan gaun berkancing. 

Baca juga: Mengunjungi Desa Gamplong, Mini Hollywood Yogyakarta, Lokasi Syuting Bumi Manusia

Fashion designer film Bumi Manusia Retno Ratih Damayanti saat ditemui di Desa Gamplong, Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).KOMPAS.com/KURNIASARI AZIZA Fashion designer film Bumi Manusia Retno Ratih Damayanti saat ditemui di Desa Gamplong, Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).
Banyaknya kritik tajam untuk kostum Bumi Manusia ini ternyata juga mendapatkan perhatian sang sutradara, Hanung Bramantyo.

Hanung sempat bertanya ketersediaan Retno menjawab semua kritikan tersebut.

Namun, Retno memilih diam dan enggan meresponsnya. 

"Saya harus komentar apa untuk orang yang kritik dengan data seminim itu? Kalau sudah nonton filmnya utuh, silakan kritik. Ini, kan, jadi perdebatan yang konyol kalau saya jawab," ujar Retno. 

Baca juga: Perjalanan Tokoh Bumi Manusia, dari Tirto, Minke hingga Iqbaal Ramadhan

Untuk membuat kostum Bumi Manusia dengan latar era kolonialisme, Retno membutuhkan waktu riset selama enam bulan.

Sebelum Bumi Manusia, Retno telah dipercaya membuat kostum film-film bertema sejarah, seperti Kartini, Sultan Agung, Sang Pencerah, Soekarno, dan Tjokroaminoto.

"Jadi saya punya bank data lumayan banyak, pas ada omongan itu saya enggak terlalu khawatir. Saya cuma tinggal menunjuk, 'ini lho data dan hasil riset saya, tercatat dan saya bukukan sendiri', jadi saya punya bukti," tutur Retno.

Baca juga: Review: Bumi Manusia, Pembuktian Iqbaal Ramadhan dan Hanung Bramantyo

Riset yang dilakukan Retno dengan metode studi literasi. 

Selain itu, Hanung Bramantyo juga mengajak tiga sejarawan untuk berdiskusi mengenai film Bumi Manusia.

Retno mengatakan, seluruh kostum yang digunakan oleh pemeran film Bumi Manusia juga sudah disepakati sejarawan.

"Saya punya tiga sejarawan yang bisa mengamini apa yang saya temukan. Jadi saya enggak bekerja sendiri dan semua saling mendukung, benar kami yakini dan lakukan," ujar Retno Ratih Damayanti. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X