Film Pendek Tak Ada Yang Gila di Kota Ini Masuk Busan International Film Festival 2019

Kompas.com - 04/09/2019, 21:39 WIB
Oka Antara dalam salah satu adegan Tak Ada yang Gila di Kota Ini dok. pribadi Oka Antara dalam salah satu adegan Tak Ada yang Gila di Kota Ini dok. pribadi

Alih-alih membiarkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ini tewas di hutan, ternyata Marwan punya rencana rahasia.

Baca juga: Film Panjang Pertama Wregas Bhanuteja Setelah Prenjak

Dalam keterangan tertulis, Rabu (4/9/2019), Wregas merasa kurasan emosi berkait kekuasan dan penindasan menjadi faktor utama dirinya menggarap cerpen tersebut untuk diangkat ke sebuah film.

“Pertimbangan pertama mengapa memilih cerpen ini adalah emosi. Saat membacanya, saya merasakan emosi kemarahan yang sama terhadap suatu hal, yakni kuasa," ucap Wregas.

Bagi Wregas yang pernah memenangkan Leica Cine Discovery Prize, Best Short Film - 55th Semaine de la Critique, dan Cannes Film Festival 2016 lewat film pendek Prenjak, kekuasaan cenderung digunakan untuk menindas dan mewujudkan ambisi tanpa memikirkan mereka yang tertindas dari ambisi tersebut.

"Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat (pleasure) pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa, bahkan kuasa akan dirinya,” kata Wregas.

Sementara menurut Produser dari Rekata Studio Adi Ekatama, memutuskan untuk memfilmkan cerpen Tak Ada yang Gila di Kota Ini agar menambah variasi jenis film Indonesia yang mengadaptasi cerpen maupun novel.

Baca juga: Wregas Prenjak Bhanuteja: Setiap Orang Sudah Bisa Membuat Film

"Selain itu, saya mempunyai harapan bahwa dengan dibuatnya film pendek ini, maka semakin banyak lagi film Indonesia, bahkan film internasional, yang mengadaptasi cerpen atau novel karya penulis Indonesia dari genre yang beragam," kata Adi.

Lain hal lagi, Oka Antara mengaku tertarik untuk bermain karena faktor skenario dan sutradaranya.

“Skenarionya sangat unik dan narang saya temui, terutama dalam film feature. Jadi cerita ini hanya bisa dicapai melalui film pendek. Dan ketika tahu director-nya Wregas, karena saya pernah menonton film Prenjak, jadi saya merasa delivery-nya pasti akan sesuai," ucap Oka.

Rekata Studio sendiri merupakan bagian dari ekosistem intellectual property (IP) management platform, yang memiliki peran utama untuk pengembangan audiovisual atau motion picture.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X