In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Kompas.com - 19/08/2020, 11:44 WIB
In Memoriam Sapardi Djoko Damono DOK. LEILA S CHUDORIIn Memoriam Sapardi Djoko Damono

SAPARDI Djoko Damono (1940-2020) adalah seorang penyihir. Seluruh negeri terpukau oleh ruh yang ditiupkan dalam puisi-puisinya "Duka-Mu Abadi", "Aku Ingin" hingga "Hujan Bulan Juni" yang tertera abadi di hati pembacanya.

Selama 80 tahun hidupnya, Sapardi bukan hanya seorang penyair yang produktif, tetapi ia juga melahirkan sejumlah penerjemahan karya asing, esai sastra, kumpulan cerita pendek dan novel.

Kepergiannya bulan Juli lalu seketika membuat keluarga, kawan, para pembacanya dirundung duka. Ini memperlihatkan Sapardi bukan saja salah seorang sastrawan terkemuka, tapi dia juga adalah seseorang yang lembut hati, yang disayangi dan dikenang selamanya.

Puisinya dirapal setiap bibir seperti k "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.." dan puisinya yang tak terlalu dikenal pun, seperti "Air Selokan": "Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir" adalah karya yang mengejutkan dengan kosa kata yang "tak lazim" tertera di dalam sajak-sajaknya.

Menurut sahabatnya, penyair Goenawan Mohamad di dalam Catatan Pinggir, majalah Tempo sebulan silam, puisi Sapardi menegaskan bahwa "pengalaman" adalah peng-alam-an: proses keterlibatan dengan "alam", dalam "alam"--akrab di tengah dunia yang hidup, tumbuh dan merapuh..."

Perihal pengalaman, peng-alam-an, melibatkan diri di dalam dunia yang hidup dan tumbuh itu memang wujud seorang Sapardi. Baik dalam kepenyairan, maupun dalam kehidupan, Sapardi memang dikenal seseorang yang selalu butuh untuk mengalami segalanya.

Ketika saya bertanya mengapa seorang penyair sebesar Sapardi masih merasa butuh untuk berekspresi dalam bentuk novel, jawabnya sederhana, tetapi tegas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mengalami. Saya ingin mengalami proses membentuk novel," katanya.

Seperti halnya ketika saya bertanya mengapa tertarik menulis esei panjang tentang Slamet Rahardjo, ia mengatakan pengalamannya menyaksikan seni peran Slamet yang menggetarkan adalah sebuah perasaan yang begitu penting.

Episode khusus Coming Home with Leila Chudori bertajuk "In Memoriam Sapardi Djoko Damono" adalah sebuah episode perayaan kehidupannya, karena sesungguhnya Sapardi tak pernah pergi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X