Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
A Kurniawan Ulung
Dosen

Dosen program studi Hubungan Internasional di Universitas Satya Negara Indonesia

Menikmati K-Drama dan Memahami Diplomasi Budaya Korea Selatan

Kompas.com - 20/03/2021, 20:17 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Untuk menjadi populer seperti saat ini, K-Drama menempuh perjalanan panjang sejak tahun 1962.

Backstreet of Seoul merupakan drama TV pertama di Korea Selatan. Pada saat itu, TV merupakan barang langka dan drama serial merupakan alat politik untuk membendung komunisme.

Perubahan mulai muncul pada era 1970-an: drama TV perlahan-lahan mulai menjadi acara hiburan keluarga seiring bertambah banyaknya keluarga yang memiliki TV.

Salah satu judul yang populer pada masa itu ialah Susa Banjang, yang bercerita tentang kemiskinan dan masalah-masalah yang mengitarinya, seperti penculikan, pembunuhan, dan penggunaan obat terlarang.

K-Drama terus berkembang dan selalu menawarkan tema-tema baru, mulai dari cerita tentang kisah asmara seperti Love and Ambition yang populer pada tahun 1980-an, hingga cerita tentang sejarah masa kolonial seperti Eyes of Dawn yang populer pada tahun 1990-an.

Menurut Suray Agung Nugroho, dosen Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), kesuksesan Jurassic Park, film karya Steven Spielberg pada tahun 1993, konon menginspirasi Presiden Kim Young-sam untuk menjadikan budaya sebagai sumber penghasian negara.

Jurassic Park hanya menghabiskan dana sebesar 63 juta dollar untuk proses produksinya, tetapi mampu mendatangkan pendapatan sebesar 914 juta dollar.

Presiden Kim Young-sam kemudian berinvestasi besar-besaran dalam dunia hiburan.

Upayanya membuahkan hasil. Drama What is Love? berhasil memikat 150 juta penonton di China pada 1997 dan menjadi drakor pertama yang sukses di luar negeri. Sejak saat itu, muncul istilah Gelombang Korea (Korean Wave) atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.

Pada era 2000-an, kemajuan teknologi dan pertumbuhan layanan video daring membuat K-Drama semakin mendunia dan popularitasnya semakin meroket di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+