Buku Pramoedya Ananta Toer Bantu Hanung Pramantyo Hidupkan "Kartini"

Kompas.com - 06/04/2017, 08:49 WIB
Hanung Bramantyo dalam wawancara usai konferensi pers film Kartini di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (5/4/2017). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGHanung Bramantyo dalam wawancara usai konferensi pers film Kartini di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (5/4/2017).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com - Sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa dalam menghidupkan kembali karakter Kartini dalam film biopik Kartini, ia dibantu oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Tidak secara langsung tentunya, tetapi melalui bukunya yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja.

"Saya baca buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang surat-surat Kartini, dan Kartini: Sebuah Biografi karya Siti Soemandari. Lalu bukunya Pak Pram judulnya Panggil Aku Kartini Saja," ujar Hanung dalam konferensi pers film tersebut di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (5/4/2017).'

Untuk buku yang berisi terjemahan surat-surat Kartini yang ia baca adalah karya Joost Cote berjudul Kartini: The Complete Writings 1898-1904 atau Emansipasi: Surat-surat kepada Bangsanya 1899-1904.

Buku ini, lanjut Hanung, merupakan terjemahan revisi yang memasukkan beberapa surat Kartini yang sebelumnya tak pernah diterjemahkan.

"Kalau buku Pak Pram itu yang akhirnya membuat saya bikin angle ini (untuk film Kartini). Saya menemukan bahwa obstacle Kartini itu bukan orang Belanda, tapi kakaknya sendiri dan pakdenya sendiri," ujarnya.

[Baca juga: Film "Kartini" Ubah Pandangan Christine Hakim]

"Buku Pak Pram itu membuat saya tersadar bahwa 'Panggil Aku Kartini Saja' menjadi angle yang paling relevan untuk diangkat di sini," tambah suami artis peran Zaskia Adya Mecca ini.

Hanung merasa bersyukur literatur tentang kehidupan Kartini kini tak lagi dibatasi, sehingga ia bisa menemukan beberapa fakta baru tentang sang pejuang emansipasi itu.

[Baca juga: Dian Sastro Panggil Kembali Kartini Lewat Musik]

"Banyak data yang dulu tidak boleh beredar, tapi sekarang boleh. Buku-bukunya Joost Cote, basic-nya itu dari surat-suratnya Kartini, akhirnya direstorasi, ditulis ulang, terus jadi buku Emansipasi," kata Hanung.

Film Kartini menghadirkan sederet aktor dan aktris kawakan Tanah Air.

Di antaranya, Dian Sastrowadoyo, Christine Hakim, Dedy Soetomo, Acha Septriasa, Ayushita, Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Dwi Sasono, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya.

Film produksi Legacy Picture dan Screenplay Production ini bakal tayang perdana pada 19 April 2017 mendatang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X