Gatot Brajamusti Divonis 1 Tahun Penjara atas Kepemilikan Senpi dan Satwa Langka

Kompas.com - 12/07/2018, 16:21 WIB
Terdakwa Gatot Brajamusti atau Aa Gatot membacakan nota pembelaan (pleidoi) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018) malam. KOMPAS.com/NURSITA SARITerdakwa Gatot Brajamusti atau Aa Gatot membacakan nota pembelaan (pleidoi) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa Gatot Brajamusti divonis satu tahun hukuman penjara atas kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018).

"Mengadili dan menyatakan Gatot Brajamusti alias Aa Gatot telah terbukti sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindakan pidana memiliki dan memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menyimpan senjata api ilegal berserta amunisi. Menghukum terdakwa dengan hukuman satu tahun penjara," ujar Hakim Ketua Achmad Guntur dalam sidang putusan yang tak dihadiri Gatot karena dalam masa perawaan di Rumah Sakit Pengayoman, Cipinang, Jakarta Timur.

Keputusan menghukum Gatot dengan kurungan satu tahun penjara setelah menimbang hukuman yang diterima Gatot sebelumnya. Gatot sudah divonis oleh Pengadilan Tinggi (PT) Mararam, Nusa Tenggara Barat, 10 tahun penjara untuk kasus penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu pada Juli 2017 lalu.

Selain itu, PN Jakarta Selatan juga menjatuhkan vonis kepada Gatot dengan hukuman penjara sembilan tahun penjara atas kasus asusila pada April 2018. Artinya total hukuman penjara yang dijalani Gatot sudah 19 tahun.

Baca juga: Hadiri Sidang, Gatot Brajamusti Diantar Ambulance dan Pakai Kursi Roda

"Menimbang bahwa terhadap pidana penjara yang dijatuhkan kepada terdakwa sebagaimana ketentuan Pasal 12 Ayat 2 dan Ayat 3 4 KUHP, dapat disimpulkan bahwa lamanya pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh melebihi 20 tahun," ujar Guntur.

Gatot terbukti melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf A Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem karena memiliki satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Selain itu, Gatot juga dinilai melanggar Pasal 1 Ayat 1 Undang Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena memiliki senjata api.

Dalam menyusun putusan ini majelis hakim menyebut ada hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan adalah sebagai publik figur, perbuatan Gatot tidak mendukung program pemerintah dalam menjaga kelestarian dan satwa keanekaragaman satwa agar tidak punah. Selain itu, terdakwa pernah dihukum.

Sedangkan hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan selama sidang, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga, terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya, serta terdakwa tidak mengetahui atas perbuatannya yang dilarang undang-undang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X