Film Dokumenter Lorena Soroti Fenomena KDRT

Kompas.com - 13/02/2019, 21:37 WIB
Ilustrasi ini menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga.Dok BBC Ilustrasi ini menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga.

KOMPAS.com -- Setelah The Clinton Affair dan Surviving R. Kelly, yang kontroversial, satu lagi film dokumenter akan disajikan kepada publik minggu ini.

Mengambil kisah nyata perempuan bernama Lorena Bobbit, yang memotong kelamin suaminya secara tidak sadar pasca berbagai aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya, Film Lorena akan diputar perdana pada Jumat (15/2/2019).

Film itu mengungkap fenomena perkosaan dalam perkawinan atau marital rape.

"Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya malam itu. Saya khilaf," ujar
Lorena ketika diwawancara oleh stasiun televisi NBC pada Jumat (8/2/2019) waktu setempat, seminggu sebelum film dokumenter yang memotret bagian pahit kehidupannya 26 tahun lalu diudarakan.

Baca juga: Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak Borong 10 Piala Citra

Perempuan kelahiran Bucay, Ekuador, pada 1970 tersebut menjadi sorotan publik pada 1993 karena tindakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya itu dan memicu perdebatan sengit tentang KDRT, khususnya marital rape atau perkosaan di dalam perkawinan.

Lorena, yang menikah dengan John Wayne Bobbitt pada 1989, kerap dianiaya secara fisik dan psikis, dan mencapai puncaknya pada 23 Juni 1993 ketika ia diperkosa suaminya.

Baca juga: Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Tayang di Bioskop AS

Insiden itu menjadi berita utama media di dalam dan luar AS selama berbulan-bulan.

Sidang pengadilan Lorena disiarkan langsung di beberapa jaringan televisi dan radio. Tak jarang ia menjadi lelucon di tabloid dan acara komedi televisi pada malam hari, termasuk program terkenal Saturday Night Live.

Ironisnya yang menjadi sorotan adalah soal tindakan pemotongan kelamin, bukan soal latar belakang tindakan itu.

"Mereka selalu memusatkan perhatian pada hal itu..." ujar Lorena kepada surat kabar The New York Times, 30 Januari 2019.

"Sepertinya mereka (media, Red) tidak tahu atau tidak peduli mengapa saya melakukan hal itu," tambahnya.

Tim juri pengadilan yang beranggota tujuh perempuan dan lima laki-laki akhirnya membebaskan Lorena dari segala tuduhan dengan alasan temporarily insane atau kehilangan akal sehat sesaat.

Baca juga: Marlina Bikin Marsha Timothy Merinding di Cannes

Kembali ke film dokumenter Lorena, film tersebut akan diputar pada Jumat (15/2/2019) waktu setempat, 26 tahun setelah kejadian itu.

Lorena sudah menjalani hidup baru. Ia menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan yang mulai beranjak remaja.

Lorena menjadikan pengalaman buruknya untuk membantu korban KDRT, karena sebagaimana pernyataannya kepada pers, "Meskipun sudah berlangsung puluhan tahun lalu, kondisi perempuan masih belum banyak berubah."

Ia berharap film dokumenter itu memberi banyak pelajaran kepada perempuan, terutama korban perkosaan dalam perkawinan dan KDRT.



Close Ads X