Bentara Budaya Yogyakarta Pun Dipenuhi Alat Penimbang Barang Dagangan

Kompas.com - 03/07/2019, 14:36 WIB
Pameran Alat Ukur & Timbangan: DATJIN diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2-11 Juli 2019.Dok Bentara Budaya Yogyakarta Pameran Alat Ukur & Timbangan: DATJIN diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2-11 Juli 2019.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- Pada Selasa malam ini (2/7/2019), Pameran Alat Ukur & Timbangan: DATJIN dibuka di Bentara Budaya Yogyakarta.

Pameran tersebut dilangsungkan untuk umum pada 2-11 Juli 2019 pada pukul 09.00-21.00 WIB.

Dengan menyimak isi pameran itu, orang-orang, khususnya kaum muda, bisa mengetahui sejarah alat-alat pengukur barang-barang, terutama timbangan, dalam perdagangan lokal dan internasional.

Baca juga: Berkegiatan Lagi, Bentara Budaya Yogyakarta Sajikan Sumarah

Hermanu, kurator dari Bentara Budaya Yogyakarta, secara tertulis menerangkan bahwa data tertua mengenai timbangan tergambar pada lembaran kertas papirus Mesir Kuno.

Gambar itu memperlihatkan sebuah alat timbang yang sederhana dan prinsipnya sama dengan timbangan emas masa kini yang disebut traju.

Lanjut Hermanu, dalam mitos Yunani juga ada timbangan.

Dewi Keadilan atau Themis digambarkan sebagai seorang perempuan dengan sepasang mata tertutup kain, tangan kiri memegang timbangan, dan tangan kanan memegang pedang, yang berarti hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu.

Pada daftar lambang zodiak Yunani, timbangan mewakili Libra.

Baca juga: Jazz Mben Senen Awali Juli 2019 dengan Musik Eksperimental hingga Pop Jazz

Sementara itu, di Indonesia, alat-alat ukur timbangan sudah tergambar pada zaman Hindu dan Buddha. Contohnya ada pada relief Candi Borobudur, yang merupakan candi Buddha.

Mengenai timbangan di Indonesia, cara mengukur dan bentuk timbangan berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Contohnya, ukuran satu pikul di Jawa berbeda dengan ukuran satu pikul di Sumatra.

Timbangan baru bisa sedikit diatur oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen pada 1621. Alat ukur berat ketika itu bernama daatse atau dacing alias datjin (dacin).

Baca juga: Akan Ada Dunia Bakul di Bentara Budaya Yogyakarta

Yang diberi hak untuk membuat dan menyebarkan alat-alat ukur tersebut adalah para mayor atau pemuka bangsa China di Batavia, sekarang Jakarta.

Sepertinya mereka kemudian mendatangkan alat-alat itu dari daratan China. Alat-alat tersebut terbuat dari kayu hitam.

Pada 1923 alat-alat ukur itu diperbaru dengan timbangan-timbangan buatan Eropa dengan beragam bentuk dan fungsi. Alat-alat ukur tersebut harus ditera.

Ternyata, bentuk dan ukuran timbangan itu sangat banyak, dari timbangan untuk kertas yang ukurannya hanya tujuh cm sampai timbangan jenis bascule yang bisa menimbang barang seberat satu ton.

Baca juga: Ali Baba, Aladdin, dan Sinbad Hadir di Bentara Budaya Yogyakarta

Di samping itu, ada juga alat-alat ukur untuk benda cair, antara lain minyak tanah, air, dan zat-zat cair lainnya.

Ada pula alat-alat pengukur panjang, antara lain meteran kayu dan penggaris, serta teodolit untuk mengukur sudut.

Sebagian besar alat yang dipamerkan itu masih bisa digunakan, sedangkan beberapa sudah karatan, karena terlalu lama tidak digunakan lantaran ketinggalan zaman.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


PenulisAti Kamil
EditorAti Kamil
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X