Terlebih, lanjut dia, banyak anak muda seusia anaknya yang tidak mengetahui siapa itu Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya.
"Akhirnya membuat saya gelisah, terutama saya pengin ajarin anak saya bahwa ada sebuah karya sastra yang berbicara tidak hanya soal cinta, tetapi berbicara tentang Indonesia," kata Hanung.
Lebih jauh dari itu, Hanung mengatakan, Indonesia terbentuk atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45.
Baca juga: Iqbaal Perankan Minke di Bumi Manusia, Hanung: Come On..
Ketika bangsanya tidak mempercayai dua hal tersebut, maka Indonesia akan kembali ke era kolonialisme atau seperti gambaran dalam novel Bumi Manusia.
Saat itu, hanya ada perbedaan ras, pergulatan relasi antarkelompok, perbedaan pribumi dengan indo.
"Semua punya aturan dan spesifikasi sendiri dan semua demi kepentingan kelompoknya. Ketika kita kembali kepada kelompok masing-masing, kita sudah melupakan Indonesia dan itu yang harus kita lawan, kembali pada Indonesia dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan," tuturnya.
Baca juga: [INFOGRAFIS] Perjalanan Hidup Pramoedya Ananta Toer, Pengarang Novel Bumi Manusia
"Kami sekeluarga saat itu untuk memperkenalkan Pram kembali, kami pergi ke sekolah-sekolah, universitas-universitas di daerah, ternyata kurang efektif," ujar Astuti.
Saat itu, lanjutnya, hanya beberapa orang yang akhirnya mengenal Pramoedya usai pengenalan di sekolah-sekolah.
Baca juga: Digunakan Syuting Bumi Manusia, Ini 5 Fakta soal Desa Wisata Gamplong
Ia berharap, jutaan orang dapat mengenal Pramoedya Ananta Toer dan karyanya setelah menonton film Bumi Manusia.
"Kalau ada orang yang bisa mengenalkan Pram saja, saya sudah terima kasih, apalagi dibuatkan tempat ini (museum), saya terima kasih sekali," kata Astuti.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.