Entang Wiharso dan Lansekap Fisik, Psikologi, serta Fenomena

Kompas.com - 08/12/2020, 20:36 WIB
City on the Move, 2019-2020, aluminum, car paint, resin, thread, color pigment, polyurethane, 78.7 x 197 x 4 in. Entang WiharsoCity on the Move, 2019-2020, aluminum, car paint, resin, thread, color pigment, polyurethane, 78.7 x 197 x 4 in.

Ia dikenal memang piawai menggunakan bahasa visual yang dramatis, entah video, lukisan pun instalasi bermateri aluminium industrial serta seni performansnya dengan karakter yang unik.

Sementara oeuvre atau inti karya seninya selama 25 tahun terakhir terkait dengan mitologi berusia berabad-abad dengan mewakilkan sosok-sosk enigmatik yang dikombinasikan kehidupan terkini gaya hidup hyper connected via internet abad ke-21.

Dari masalah universal tentang kekuasaan, tragedi, cinta dan kemanusiaan sampai rasa penasarannya dengan konsep ideologi, filsafat pun geografi.

Seniman fenomenal ini membingkai sedemikian rupa ekspresi visualnya dengan strategi kritik sosial, provokasi kognitif tentang identitas dua budaya sampai gambaran yang rumit tentang psikologi ambang bawah sadar diri manusia.

Identitas, politik dan pandemi

Proyek karya baru yang didukung oleh program fellowship dari John Simon Gugenheim Memorial Foundation pada Juni 2019-Juni 2020 di New York, AS memampukan Entang meneliti, dengan melihat dirinya sendiri sebagai pengalaman yang sangat privat.

Kemudian mencari dan berupaya menemukan dengan mengamati serta memahami lebih mendalam bagaimana sebuah tempat atau geografi sebuah lokasi berelasi dengan sejarah, topografi fisik sampai peristiwa-peristiwa fenomenal berkonteks politik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Sebut Putra Sulungnya Berbakat di Seni, Soimah Tak Paksa Ikuti Jejaknya

“Saya tahu bahwa begitu banyak konflik politik tahun-tahun terakhir ini di Amerika, dari isu rasial, gerakan black lives matter sampai bahkan mungkin gejala xenophobia dengan sebutan kuasa white supremacy itu”, katanya.

“Ini yang yang membuat saya mencoba menyusuri masa lalu tentang sejarah Amerika, melihat jejak-jejak civil war, sejarah budaya dan seni, juga potensi traumatik tentang isu perbudakan masa lalu sekaligus rekonsiliasi sampai terbentuknya negara demokrasi terbesar sejagat ini” imbuh Entang.

Ia membayangkan karyanya sejak 2009 lalu, yakni instalasi anggun Temple of Hope sebagai model awal, dengan menawarkan serial lanjutan terbarunya tentang Tunnel of Light, 2020.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.