Entang Wiharso dan Lansekap Fisik, Psikologi, serta Fenomena

Kompas.com - 08/12/2020, 20:36 WIB
Asian-American Thanksgiving Dinner, Digital Drawing, 2020.Entang Wiharso Entang WiharsoAsian-American Thanksgiving Dinner, Digital Drawing, 2020.Entang Wiharso

Seperti energi spiritual-transedensi yang divisualkan oleh instalasi raksasa—kelak jika terbangun secara empirik-- dengan dinding-dinding yang terukir ikon-ikon dekorasi Jawa-Bali dengan tiga lorong yang ditaburi cahaya dari dalam.

“Proyek yang disponsori oleh Yayasan Gugenheim saya visikan bisa terealisasi di masa depan dengan instalasi raksasa yang riil. Sebab saya telah membuat proyek penelitian panjang selama setahun dan kemudian hasilnya adalah presentasi visual model seperti yang kita saksikan dalam Bincang Virtual dan Presentasi Visual Desember ini,” katanya menambahkan.

Entang juga menampilkan materi-materi baru, seperti "Glitter", dalam The Camouflage Series (2020), yang menurutnya adalah materi yang sempurna untuk mengekspresikan ide-ide tentang yang palsu dan nyata, persepsi dan asumsi, serta tak pelak: identitas.

Entang Wiharso yang membangun keluarga secara birasial dan otomatis mengadopsi keyakinan multikultural selalu gelisah menyoal identitas dan realitas yang dialami di Amerika.

“Saya hidup dengan keluarga, bertetangga dengan sangat baik dengan komunitas masyarakat di sana, kita saling mendukung," katanya. Tapi, realitas politik di sana berbeda, bahwa sejarah memberi petunjuk selain kondisi politik yang begitu banyak pertentangan ideologi pada masa lalu yang mengunggulkan ras asli.

“Yang justru, fenomena ini memberi sumbangsih besar sebagai semacam upaya reflektif dalam karya-karya saya,” ujar Entang.

Tatkala pandemi tiba, wabah Covid-19 ini menciptakan mass chaos untuk sementara waktu, yang gegap-gempita dengan angka tertinggi kini melampaui 10 juta jiwa terinfeksi di AS. Entang mengaku pada penulis, ia menemukan begitu banyak jalan alternatif menyikapinya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia dituntun secara nalar sekaligus spiritual bahwa ia harus memilah dan memilih materi berkarya, terus membangun daya nalar kritis yang dikembangkan menghadapi hoaks di internet dan peristiwa-peristiwa mengerikan yang disiarkan saluran televisi privat di Amerika Serikat.

“Saya menemukan bentuk bunga, kebun halaman belakang rumah sampai metafor yang kaya bahwa pandemi 9 bulan adalah saat kita merenungi segala yang hingar-bingar di luar dengan hal-hal kecil yang sebenarnya indah, di dalam hati kita untuk berdamai tanpa menafikan kita terus menemukan apa yang terbaik bagi hidup kita,” kata Entang.

Karya-karya yang sejenis kemudian berhamburan keluar, di studionya Black Goat Studio yang di Rhode Island, AS memberi dia kesempatan juga menemukan karya-karya lukisan digital atau karya lamanya selama dua tahun, yakni: City on The Move (2019-2020).

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.