Jelang Sidang Putusan, Ini Perjalanan Kasus Narkoba Ridho Rhoma

Kompas.com - 19/09/2017, 05:35 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

 

[Baca juga: Rhoma Irama Akui Kecewa pada Ridho Rhoma]

 

Sayangnya, pada sidang berikutnya yakni tanggal 25 Juli 2017, Majelis Hakim menolak semua eksepsi yang diajukan oleh tim kuasa hukum Ridho Rhoma.

“Keberatan ini tidak beralasan dan tidak dapat diterima," ujar Majelis Hakim.

Menurut Majelis Hakim salah satu poin eksepsi dari Ridho, yakni berat barang bukti yang tak sama antara BAP dan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), karena kuasa hukum yang kurang cermat.

"Berat barang bukti yang dilihat dalam BAP tidak sama dengan dakwaan. Bahwa kuasa hukum tidak cermat membaca dakwaan. Berat yang dilihat adalah berat netto bukan berat brutto," kata Majelis Hakim lagi.

[Baca juga: Majelis Hakim Tolak Semua Eksepsi Ridho Rhoma]

Dengan kata lain, sidang Ridho pun harus dilanjutkan. 1 Agustus 2017 sidang dengan terdakwa Ridho Rhoma digelar dengan agenda menghadirkan saksi-saksi.

Tiga saksi dihadirkan dengan penyidik Polres Jakarta Barat yang menangkap Ridho di sebuah hotel di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (25/3/2017) lalu.

Dari keterangan saksi-saksi, kuasa hukum Ridho justru merasa diuntungkan. Menurutnya, saksi dengan sendirinya mengungkapkan bahwa Ridho hanya sebagai pemakai bukan pengedar. Pihaknya pun optimis bahwa permohonan rehabilitasi Ridho akan dikabulkan.

“Masih pertimbangan oleh majelis hakim. Secara lisan juga mengajukan permohonan, majelis hakim akan mempertimbangkan dengan pokok perkara. Kami sangat berharap bisa direhab. Akan lebih baik untuk psikologis mas Ridho sendiri," ungkap Cholidin.

Minggu berikutnya, 8 Agustus 2017, saksi-saksi kembali dihadirkan yakni dua orang petugas keamanan hotel di mana Ridho ditangkap dan dua orang pengedar yang menjual sabu kepada Ridho yakni Ardi dan Sofyan.

[Baca juga: JPU Hadirkan Empat Saksi Terkait Kasus Ridho Rhoma]

 

Sofyan lantas mengungkap bahwa Ridho telah mentrasnfer uang sebesar Rp 1,8 juta untuk membeli sabu seberat 1 gram dari Ardi. Paket sabu dikemas dalam sebuah map yang dikirim melalui transportasi online. Keterangan Sofyan dibenarkan oleh Ridho.

“Iya, benar,” ucap Ridho seraya tertunduk. Dari keterangan saksi-saksi itu, kuasa hukum Ridho justru merasa adanya rekayasa yang sengaja dibuat.

"Saya yakin. Saya yakin. Kita berawal dari pembuktian, dari kesaksian, ada tidak saksi yang melihat dia memakai, sebelum-sebelumnya ada yang memakai, misalnya," ujar Achmad Cholidin.

Tanggal 22 Agustus 2017, Ridho Rhoma kembali duduk di kursi pesakitan. Kali ini giliran Ridho yang membeberkan bagaimana ia menyimpan sabu sabu tersebut.

Pelantun "Menunggu" ini menyebutkan, bahwa dia menyimpan sabu dalam sebuah buku olahraga SMP yang diletakkan di dalam amplop file coklat.

[Baca juga: Ridho Rhoma: Sabu Dimasukkan dalam Buku Pelajaran Olahraga SMP]

 

Ridho mengatakan di dalam buku itu sengaja dibuat lubang untuk meletakkan sabu. Selain itu, Ridho juga megungkap tentang proses pemesanan sabu kepada Sofyan alias Ian dan Ardi.

Ridho menghampiri Sofyan di apartemennya di Thamrin Residence untuk mengambil pesanannya. Sayangnya, sabu yang dipesan belum datang. Ridho menunggu di unit itu, sementara Sofyan mengambil barang.

"(Sabu) Dipakai langsung. Iyan (yang menyediakan alat-alatnya). Beberapa kali (di apartemen itu). Tidak (sampai 10 kali), lebih (dari tiga kali). Yang masukin (sabu) Iyan. Seingat saya, saya (yang mengisap pertama), sekitar enam kali isap," kata Ridho sambil memeragakan cara mengonsumsi sabu.

Sidang pun tiba pada agenda pembacaan tuntutan. Pada 29 Agustus 2017 Ridho dituntut dua tahun penjara oleh jaksa penuntut umum.

Jaksa menilai Ridho telah melanggar Pasal 112 juncto Pasal 132 ayat (1) dan subsidair Pasal 127 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 55 KUHP.

Pembacaan nota pembelaan atau pledoi berlangsung begitu emosional pada 5 September 2017. Ridho menyatakan penyesalannya atas keputusannya menggunakan narkoba.

“Saya ingin menyampaikan, saya sadar apa kesalahan saya. Saya percaya bahwa akan ada keadilan. Saya menyesal dan saya berjanji tidak akan mengulangi. Saya mengucapkan terima kasih," ucapnya sembari menyeka air mata.

Selasa (19/9/2017), Ridho dijadwalkan akan menghadapi sidang putusan. Terkait hal itu kuasa hukumnya, Ismail Ramli menyebut kliennya sudah sangat siap.

“Alhamdulillah Ridho siap menghadapi apa pun risiko dari perbuatan dia. Mau ditahan apalagi direhabilitasi dia sudah siap. Mentalnya sudah kuat Alhamdulillah,” tukas Ismail.

[Baca juga: Ridho Rhoma Pasrah Hadapi Sidang Putusan]

 


Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X