Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Selamat Tinggal 2020, Tahun "Ojo Dumeh"

Kompas.com - 31/12/2020, 10:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Falsafah bersifat sosial seperti mangan ora mangan asal kumpul  (makan atau enggak makan tak masalah asal kumpul) mendadak menjadi anakronis akibat wabah virus corona yang justru memaksa manusia untuk tidak berkumpul dengan sesama manusia, apalagi yang mengidap virus.

Falsafah mangan ora mangan asal kumpul berubah menjadi ojo kumpul ben ora ketularan (jangan berkumpul agar gak ketularan) corona.

Kerumunan bukan hanya menjadi perilaku asosial namun bahkan menjadi kriminal akibat melanggar protokol kesehatan.

Diuntungkan

Namun di sisi lain tidak semua pihak dirugikan oleh virus corona sebab terbukti produk tertentu akibat corona malah makin menjadi laris-manis dikonsum, seperti misalnya masker, alat perlindungan diri, oksigen, respirator, vaksin flu, vaksin pneumonia, dll.

Produsen produk jasa telekomunikasi Zoom dan pengusaha jasa penjualan online mengalami masa gilang-gemilang yang semula tidak pernah mereka nikmati.

Produk yang semula tidak dipedulikan konsumen seperti misalnya produk jasa perkantoran mendadak menjadi produk yang dibutuhkan konsumen jasa perkantoran sebab masyarakat mulai WFH alias bekerja dari rumah belaka tanpa perlu menggaji pekerja kantor sebab bisa membeli produk outsourcing jasa perkantoran.

Bahkan turisme religi masa kini seperti misalnya menghadiri upacara perayaan Natal di Bethlehem bisa dilakukan secara jarak-jauh dengan mendayagunakan teknologi online maupun Zoom.

Kini muncuk produk teleturisme. Maka saya pribadi menyayangkan bahwa Menteri Kesehatan Republik Indonesia diganti akibat melihat kenyataan tidak ada satu pun Menteri Kesehatan bahkan Kepala Negara di planet bumi masa kini yang mampu menghadapi apalagi menanggulangi pagebluk Corona.

Memang tidak ada manusia yang sempurna maka dengan sendirinya juga tidak ada Menkes yang sempurna, maka dapat dimahfumi bahwa mustahil ada Menkes yang mampu mengatasi malapetaka corona secara sempurna.

Jika kemampuan menanggulangi angkara murka virus corona dipaksakan untuk menjadi syarat Menteri Kesehatan, maka seluruh Menteri Kesehatan di semua negeri di planet bumi harus diganti.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.